Hipersensitivitas Tipe III ( Sri Kartika Dewi)
Hipersensitivitas Tipe III ( Sri Kartika Dewi 1604015143)
Hipersensitivitas adalah reaksi berlebihan, tidak diinginkan
karena terlalu senisitifnya respon imun (merusak, menghasilkan ketidaknyamanan,
dan terkadang berakibat fatal) yang dihasilkan oleh sistem imun.
Pada keadaan normal, mekanisme pertahanan tubuh baik humoral maupun
seluler tergantung pada sel B dan sel T. Aktivitas atau gangguan mekanisme ini,
akan menimbulkan keadaan imunopatologis yaitu reaksi hipersensitivitas.
Menurut Gell dan Coombs : " Reaksi hipersensitivitas tipe
III yaitu reaksi kompleks imun."
Berdasarkan kecepatan reaksinya, reaksi hipersensitiitas tipe II dan
III merupakan tipe intermediet.
Penyebab reaksi
hipersensitivitas:
a. Infeksi persisten :
Pada infeksi, terdapat antigen
mikroba. Pada proses infeksi ini akan muncul kompleks imun pada organ yang
terinfeks.
b. Autoimun :
Terjadi kompleks imun yang
berasal dari tubuh sendiri. Kompleks imun mengendap pada ginjal, sendi dan
pembuluh darah.
c. Ekstrinsik :
Pada reaksi ini, antigen yang
berperan adalah antigen lingkungan. Tempat kompleks imun mengendap yaitu paru
Reaksi hipersensitivitas tipe
III muncul ketika terdapat antibodi dalam jumlah kecil dan antigen dalam jumlah
besar, yang membentuk kompleks imun yang kecil dan sulit diekskresikan dari
sistem sirkulasi. Kompleks imun ini memiliki sifat sebagai antigen terlarut
yang tidak berikatan dengan permukaan sel. Ketika antigen ini berikatan dengan
antibodi, maka terbentuk kompleks imun dengan berbagai ukuran. Kompleks imun
yang berukuran besar dapat dimusnahkan oleh makrofag, namun kompleks imun yang
berukuran kecil, sulit untuk dimusnahkan oleh makrofag sehingga dapat lebih
lama bertahan dalam sirkulasi. Kompleks imun ini menjadi berbahaya ketika
mengendap di jaringan. Beberapa jaringan tersebut diantaranya: pembuluh darah,
persendian dan glomerulus. Endapan ini akan menimbulkan gejala. Kompleks imun
berukuran medium lebih bersifat patogen.
Penyakit pada reaksi
hipersensitivitas tipe III :
a. Aspergilosis
bronkopneumonia alergik :
Merupakan peradangan saluran
nafas yang sering pada usia muda dengan atopi. Penyebabnya yaitu alergi
terhadap jamur aspergilus fumigatus. Penyakit ini menyebabkan kerusakan pada
bronkus (bronkiektasis) dan parenkim paru. Terdapat 2 mekanisme imunologis
yaitu kompleks imun yang terbentuk dari antigen aspergilus dan antibodi (IgG)
menyebabkan inflamasi saluran nafas melalui mekanisme aktivasi komplemen dan
sel-sel fagosit serta kerusakan parenkim paru dan bronkus terjadi akibat ikatan
IgE dengan alergen aspergilus yang menempel pada mastosit, yang selanjutnya
menunjukkan reaksi hipersensitivitas tipe I akibat penglepasan histamin dan
mediator lainnya. Gambaran klinis seperi asma berupa demam, batuk, nyeri dada
dan kelelahan.
b. Sistemik Lupus
Eritematosus (SLE) :
SLE merupakan penyakit autoimun
sistemik dengan karakteristik respon sel B dan sel T secara berlebihan dan
kehilangan toleransi sistem imun dalam melawan antigen dari tubuh sendiri.
Produksi dan gangguan eliminasi dari antibodi, sirkulasi dan deposit jaringan
dari kompleks imun, komplemen dan aktivasi sitokin berkontribusi terhadap
terjadinya gejala klinis yang muncul seperti lemah, nyeri sendi dan kegagalan
organ. Berdasarkan E.Cozzani dkk, antibodi yang berperan pada SLE yaitu
antinuclear antibodi, antidouble stranded DNA antibodi.
Kompleks imun mengendap di
dinding pembuluh darah :
Antigen dapat berasal dari
infeksi kuman patogen yang persisten (malaria), bahan yang terhirup (spora
jamur yang menimbulkan alveolitis alergi ekstrinsik) atau dari jaringan sendiri
(penyakit autoimun). Infeksi dapat disertai antigen yang berebihan tanpa
disertai respon antibodi yang efektif. Oleh karena makrofag belum dapat
memusnahkan kompleks imun, sehingga perangsangan terhadap makrofag ini terjadi
secara terus menerus dan berakibat terhadap rusaknya jaringan.
Kompleks imun yang terdiri dari
antigen dalam sirkulasi dan IgM atau IgG atau IgA diendapkan di membran basal
vaskuler dan membran basal ginjal sehingga menimbulkan reaksi inflamasi lokal
dan luas. Kompleks ini juga dapat menimbulkan agregasi trombosit, aktivasi
makrofag, perubahan permiabilitas vaskuler, aktivitas sel mast, produksi dan
pelepasan mediator inflamasi dan bahan kemotaktik serta influks neutrofil. Bahan
toksik ini dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan sekitarnya.
Daftar Pustaka
Subowo. 2010. Imunologi Klinik : Hipersensitivitas. 2nded. Sagung seto : Jakarta.
Salim EM, Sukmana N, Penyakit kompleks imun. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.edisi ke-VI, Jakarta:Balai Penerbit FK UI;2014:525-531
Subowo. 2010. Imunologi Klinik : Hipersensitivitas. 2nded. Sagung seto : Jakarta.
Salim EM, Sukmana N, Penyakit kompleks imun. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.edisi ke-VI, Jakarta:Balai Penerbit FK UI;2014:525-531

Komentar
Posting Komentar