Hipersensitivitas tipe II

KHOIRIYAH DEVI

Pengertian Reaksi Hipersensitivitas 
Apakah reaksi hipersensitivitas itu ? Reaksi hipersensitivitas adalah peningkatan sensitivitas tubuh terhadap antigen yang pernah terpapar atau terpajankan sebelumnya.

Hipersensitivitas Tipe 2 Reaksi hipersensitivitas tipe 2 terjadi karena dibentuknya IgG dan IgM terhadap antigen yang merupakan bagian dari sel pejamu. Reaksi ini dapat disebut juga sebagai reaksi sitotoksik atau reaksi sitolitik. Reaksi ini terdiri dari 3 jenis mekanisme, yaitu reaksi yang bergantung pada komplemen, reaksi yang bergantung pada ADCC dan disfungsi sel yang diperantarai oleh antibodi. Mekanisme singkat dari reaksi tipe 2 ini sebagai berikut : - IgG dan IgM berikatan dengan antigen di permukaan sel - Fagositosis sel target atau lisis sel target oleh komplemen, ADCC dan atau antibodi - Pengeluaran mediator kimiawi - Timbul manifestasi Manifestasi yang ditimbulkan oleh reaksi ini dapat berupa anemia hemolitik autoimun, eritroblastosis fetalis, sindrom Good Pasture, atau pemvigus vulgaris.

Berikut merupakan penyakit yang ditemukan dengan penyakit hipersentivitas tipe II sitotoksik. 
1.  Reaksi transfuse Untuk memudahkan penjelasannya, langsung dengan contoh yang mungkin terjadi pada seseorang dengan golongan darah 0 yang akan mendapatkan transfuse darah dengan golongan darah A tau B. dalam serum pemilik golongan drah 0 tersebut tredapat antibody anti A dan Anti B dari kelas IgG,IgM. Bila orang dari darah 0 tersebut mendapatkan transfuse darah yang tdk sesuai, misalnya dengan darah golongan A, berarti dalam darahnya dimasukkan sel-sel eritrosit yang pada permukaannya terdapat antigen tipe A yang akan dikenal asing oleh resipien. Dalam darah resipien terdapa banyak antibody anti Adan Anti B sebelumnya, maka sel-sel eritrosit dengan antigen tipe A akan segera terikat dengan antibidi anti A dalam peredaran. Sehingga sebagian besar eritrosit dalam adarah transfuse akan segera dilisis oleh aktivitas komplemen dalam pembuluh dara resipient. Transfuse yang dilakukan ternyata tdk berguna krna tdk ada mekanisme perbaikan sel-sel eritrosit yang rusak. Selain penderita tdk mendapat manfaat dari transfuse, dia menghaadpi sutu resiko kerusakan pada organ ginjalnya, karena dalam jaringan ginjal terdapat sumbatan oleh timbunan membrane sel eritrosit yang begitu banyak, serta dihadapinya efek toksik yang dilapaskan oleh kompleks hem erotrosit 
2.  Reaksi incomatibilatas golangan Rh Agak mirip dengan contoh yang diatas, contoh berikut dapa dialami oleh seorang bayi yang dilahirkan dengan golongan darah resus yang tdak cocok dengan golongan resus orang tuanya. Contoh sederhananya, bayi dilahirkan dengan golongan darah Rh+ oleh ibu dengan golongan darah Rh-. Selama dalam kandungan, dengan adanya kebocoran bayi-ibu, bayi tsbut mungkin melepaskan eritrosit dengan antigen Rh+ kedalam darah ibunya. Bila ibu tersebut cukup mendapatkan imunisai dari banyinya dengan Rh+ maka dalam darah ibunya akan terbentuk antibody Rhdengan kelas IgG. Keadaan inilah akan memberikan resiko pada bayinya, karena antibody anti Rhdengan kelas IgG dapat melintasi plasenta untuk mencapai tubuh bayi. Ketika antibody anti Rhdan ibu mencapai tubuh bayi terjadilah reaksi ikatan antigen Rhpada permukaan sel-sel eritrosit. Kerna kepadatan anti antigen Rh pada eritrosit masih rendah, biasanya antigen antibody gagal melisis atau mengalutinasi sel-sel eritrosit bayi secara langsung. Tetapi eritrosit bayi yang terbungkus IgG dari ibunya akan memepermudah terjadinya opsonisasi oleh pagosit dari bayi. Peristiwa ini akn memngakibatkan eritrosit yang dahsyat dengan membawa kuensekuensi patogi yang berawal dari menurunnya transfortasi oksigen bayi kerna kekurangan sel2 eritrosit sehat. 
3.  Anemia hemolytica Pada beberapa orang yang memproduksi antibody terdapat antigen asing yang terdapat pada permukaan sel-selnya sendiri, sebagai akibat oleh penyakit infeksi tertentu, atau oleh penyebab lain yang belum diketahui, dapat terjadi hipersensitivitas sitotoksik. Misalnya penderita mengalami kerusakan sel-sel eroitrositnya karena reaksi sitoksik sehingga mengalami anemia. Antibody yang diproduksi oleh pendrita tersebut akan mengikat antigen yang ada pada permurkaan eritrosit, yang selanjutnya akan memperpendek umur erotrosit dengan keterlibatan hemolisis atau pagisitosis (opsonisasi) melalui reseptor Fc atau C3b pada pagosit. 
4.  Reaksi karena obat-obatan Terjadi reaksi sitotoksik pada bebrapa individu karena obat-obatan yang digunakan. Obat-obatan yang bertindak sebagi hapten akan bergabung pada permukaan sel atau sel-sel darah. Hapten tersebut akan menginduksi pembentukan antibody sebagai respon terhadap obat-obatan yang digunakan. Apabila antibodi spesifik terhadap obat yang bertindak sebagai hapten tersebut akan mengikat pada sel-sel darah atau sel-sel jaringan, berlangsunglah proses kerusakan sel2 yang bersengkutan. Kerusakan sel2 darah melalui perantara natibodi,sperti eritrosit yang menyebabkan penyakit anemia hemolitik, atau kerusakan trombosit yang menyebabkan trombisitopenia merupakan kejadian efek yang luar biasa setelah penggunaa. Berbagain obat-obatan (penisilin) obat antibiotika,antiaritmia jantung, pinidin atau obat-obatan anti hipertensi, dan metyl dopa dapat memberikna efek samping melalui mekanisme reaksi hipersensitivitas tipe II.;

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOMPLEMEN

REAKSI HIPERSENSITIVITAS

Imunonutrine