Autoimun sel B
(Dwi Anggrefia Nirzon)
Menurut Baratawidjaya (2006), autoimun adalah
respon imun terhadap antigen jaringan sendiri yang disebabkan kegagalan
mekanisme normal yang berperan untuk mempertahankan self-tolerance sel B, sel T
atau keduanya.
Autoimunitas
dapat terjadi oleh karena aktivasi sel B poliklonal oleh virus (EBV), LPS dan
parasit malaria yang dapat merangsang sel B secara langsung yang menimbulkan
autoimunitas. Antibodi yang dibentuk terdiri atas berbagai autoantibodi.
Sel B adalah limfosit yang memainkan peran
penting pada imunitas humoral, sedangkan limfosit lain yaitu sel T memainkan peran penting imunitas
seluler. Fungsi utama sel B adalah untuk membuat antibodi melawan
antigen. Sel B adalah komponen sistem imun adaptif.
Pada
tahun 1956, Roitt dkk untuk pertama menemukan antiboditerhadap
tirogobulin, yang bertindak sebagai autoantigen, dalam serumpenderita
penyakit Hashimoto(1). Pada tahun yang sama Adams dan Purves menemukan
pula stimulator tiroid abnormal pada penderita penyakit Graves yang
kerjanya mirip TSH, disebut sebagai long-acting thyroid stimulator (LATS).
Baru sekitar 20 tahun kemudian diketahui bahwa LATS adalah suatu
autoantibodi yang mampu merangsang reseptor TSH (thyrotropin receptor
antibodies = TRAb) untukmenghasilkan hormon tiroid tiroksin dan
triiodotironin. Pada tahun-tahun berikutnya ditemukan pula berbagai antibodi
antitiroid lainnya.
Penyakit Graves dan Hashimoto merupakan penyakit
tiroid autoimun (Autoimmune Thyroid Disease = AITD; Penyakit Tiroid Autoimun =
PTAI) yang paling sering ditemukan di klinik, tergolong dalam penyakit autoimun
bersifat organ-specific. Varian lain PTAI adalah tiroiditis atrofik, tiroiditis
postpartum, tiroiditis karena obat (drug-induced thyroiditis) seperti
amiodarone dan interferon-α, tiroiditis yang menyertai sindrom autoimun
poliglandular. Sering pula ditemukan antibodi antitiroid (anti-TPO dan anti-Tg)
dalam serum tanpa gejala klinik (2).Temuan-temuan tersebut memunculkan paradigm
baru tentang penyakit autoimun; PTAI yang merupakan penyakit autoimun klasik
sering dijadikan model untuk memahami patogenesis penyakit autoimun
organ-specific lainnya.
Penyakit
autoimun terdiri dari dua golongan, yaitu :
1. Khas
organ (organ specific) dengan pembentukan antibodi yang khas organ; contoh : Thiroiditis,
dengan auto-antibodi terhadap tiroid; Diabetes Mellitus, dengan auto-antibodi
terhadap pankreas; sclerosis multiple, dengan auto-antibodi terhadap susunan
saraf; penyakit radang usus, dengan auto-antibodi terhadap usus.
2. Bukan
khas organ (non-organ specific), dengan pembentukan auto antibodi yang tidak
terbatas pada satu organ.
Contoh :
Systemic lupus erythemathosus (SLE), arthritis rheumatika, vaskulitis sistemik
dan scleroderma, dengan auto-antibodi terhadap berbagai organ.
Daftar pustaka
Amino N. Autoimmunity and hypothyroidism. Clin Endocrinol
Metab 1988;2(3):591-617.
Baratawidjaya, Karnen Garna. 2006. Imunologi Dasar.
Universitas Indonesia Press.
Campbell PN, Doniach D, Hudson RV, Roitt IM. Autoantibodies
in Hashimoto’ s disease (lymphadenoid goiter). Lancet 1956;271(6947):820- 821.
Carella C, Maziotti G, Morisco F, Manganella G, Rotondi M,
Tuccillo C, et al. Long-Term outcome of interferon-alfa- induced thyroid
autoimmunity and prognostic influence of thyroid autoantibody pattern at the
end of treatment. J Clin Endocrinol Metab 2001;86;1925-1929.
Isbagio H, Albar Z, Kasjmir YI, Setiyohadi B.
Lupus eritematosus sistemik. In: Sudoyo AW,
Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S,
editors. Buku ajar ilmu penyakit
dalam, 4th ed. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI; 2006.p.1224-35.
Jacobson EM, Tomer Y. The CD40, CTLA-4, thyroglobulin, TSH
receptor, and PTPN22
Komentar
Posting Komentar