5 Dasar Vaksin (Sri Kartika Dewi)
5 Dasar Vaksin
(Sri Kartika Dewi 1604015143)
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV :
vaksin adalah sediaan yang mengandung zat antigenik yang mampu menimbulkan kekebalan aktif dan khas pada manusia.
Jenis-jenis vaksin :
Vaksin Bakteri
Dibuat dari biakan galur bakteri yang sesuai dalam media cair atau padat yang sesuai dan mengandung bakteri hidup atau pun inaktiv atau komponen imunogeniknya.
- Toksoid Bakteri
Toksin yang telah dikurangi atau dihilangkan sifat toksisitasnya hingga mencapai tingkat tidak terdeteksi, tanpa mengurangi sifat imunogenitasnya.
- Vaksin Virus dan Riketsia
Suspensi virus atau riketsia yang ditumbuhkan dalam telur berembrio, dalam biakan sel atau dalam jaringan yang sesuai. Mengandung virus atau riketsia hidup atau inaktiv atau komponen imunogeniknya. Vaksin virus hidup umumnya dari virus galur khas yang virulensinya telah dilemahkan.
Imunisasi dasar yang digunakan dalam program imunisasi di Indonesia, yaitu :
Vaksin Hepatitis B digunakan untuk memberikan kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus Hepatitis B, tetapi tidak dapat mencegah infeksi virus yang lain seperti virus Hepatitis A dan C yang diketahui dapat menginfeksikan hati. Biasanya digunakan untuk bayi berusia 0-7 hari.
2. Vaksin BCG ( Bacillus Calmette Guerin) :
Vaksin bentuk kering yang mengandung mycobacterium bovis yang sudah dilemahkan. Vaksin BCG digunakan untuk memberikan kekebalan aktif terhadap tuberkulosa. Biasanya digunakan pada bayi berusia 1 bulan.
3. Vaksin DPT (Difteri PErtusis Tetanus) :
Vaksin yang terdiri dari toxoid difteri dan tetanus yang dimurnikan serta bakteri pertusis yang telah diinaktivasi dan teradsorbsi dalam 3 mg/ml alumunium fosfat. vaksin DPTHB digunakan untuk memberikan kekebalan secara simultan terhadap difteri,tetanus dan batuk rejan. Vaksin DPT memiliki 2 jenis yaitu DTwP (whole-cell pertusis) dan DTaP ( acelluler pertusis), dan yang dipakai selama ini yaitu DTwP. Vaksin ini biasa digunakan sebanyak 3 kali pada saat bayi berusia 2 bulan biasa disebut DPTHB 1, pada bayi berusia 3 bulan disebut DPTHB 2, dan terakhir pada bayi berusia 4 bulan biasanya disebut DPTHB 4.
4. Vaksin Polio (Oral Polio Vaccine = OPV) :
Vaksin polio trivalent yang terdiri dari suspensi virus poliomyelitis tipe 1, 2 dan 3. Vaksin ini sudah dilemahkan, dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa. Vaksin Polio digunakan untuk memberikan kekebalan aktif terhadap poliomyelitis. Vaksin Polio terdapat 2 jenis vaksin yaitu untuk oral (OPV) dan injeksi (IPV). pemberian Vaksin Polio biasanya sebanyak 4 kali pada bayi berusia 1 bulan disebut polio 1, pada bayi 2 bulan disebut polio 2, pada bayi 3 bulan disebut polio 3, dan pada bayi berusia 4 bulan disebut dengan polio 4.
5. Vaksin Campak :
Merupakan vaksin yang hidup namun sudah dilemahkan. Vaksin ini berbentuk kering yang harus dilarutkan dengan aquabides steril. Vaksin ccampak digunakan untuk memberikan kekebalan secara aktif terhadap penyakit campak. Vaksin ini biasa digunakan pada bayi berusia 9 bulan, namun jika ada wabah campak dapat diberikan pada usia 6 bulan dan suntikan ulang dengan vaksin yang sama pada 6 bulan kemudian.
Apabila ada keterlambatan dalam memberikan imunisasi pada anak maka setiap tahap dari imunisasi harus tetap diberikan mulai dari awal (khusus imunisasi Hepatitis B). Sedangkan untuk imunisasi Polio dan DPT tidak perlu memulai dari awal cukup dengan melakukan imunisasi yang tertinggal berdasarkan pada usia bayi yang akan melakukan imunisasi. Sebaiknya bayi melakukan imunisasi pada saat dalam keadaan sehat.
Daftar Pustaka
Departemen Kesehatan RI.1995. Farmakope Indonesia Edisi IV
Departemen Kesehatan RI. 2004. Pedoman Penglolaan Obat Publik Dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas. Ditjen Yanfar dan Alkes. Jakarta.

Komentar
Posting Komentar